Kamis, Februari 25, 2016

Sejarah Tari Pakarena


Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa.

Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langimengajarkan penghunilino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduklino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.

Sebagai seni yang berdimensi ritual, Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya. Meski tarian ini sempat menjadi kesenian istana pada masa Sultan Hasanuddin raja Gowa ke-16, lewat sentuhan I Li’motakontu, ibunda sang Sultan. Demikian juga saat seniman Pakarena ditekan gerakan pemurnian Islam Kahar Muzakar karena dianggap bertentangan dengan Islam. Namun begitu tragedi ini Tarian Pakarena dan musik pengiringnya bak angin kencang dan gelombang badai. Terang musik Gandrang Pakarena bukan hanya sekedar pengiring tarian. Ia juga sebagai penghibur bagi penonton. Suara hentakan lewat empat Gandrang atau gendang yang ditabuh bertalu-talu ditimpahi tiupan tuip-tuip atau seruling, para pasrak atau bambu belah dan gong, begitu mengoda penontonya.

Alat musik Conga

conga


Conga drum yang berasal dari Afrika. Nama conga mungkin berasal dari nama itu tanah, yang Congolaise dari Afrika. Namun, yang Conga juga disebut Tumbadora.

Conga yang merupakan keturunan yang berbentuk kerucut berbentuk drum dari "Makuta".

Conga yang telah melalui beberapa perubahan dalam bentuk dan bahan-bahan yang sejak semula ia diciptakan. Hari congas lebih berbentuk kerucut bulat dari para leluhur. Conga yang pada awalnya dibuat dari kayu, tetapi saat ini tersedia dalam fiberglass juga.

Pantun

Pantun adalah salah satu puisi lama yang dikenal cukup luas dalam berbagai macam bahasa bahasa yang ada di Nusantara. Contohnya, dalam bahsa Jawa pantun dikenal dengan sebutan Parikan, sementara itu dalam bahasa Sunda, pantun dikenal dengan nama paparikan, dan dalam Batak pantun dikenal dengan Umpasa. Pada dasarnya, pantun terdiri dari empat larik atau baris, bersajak akhir a-b-a-b dan a-a-a-a. awal mulanya, panting adalah sebuah sastra lisan, tetapi sekarang banyak juga pantun yang tertulis.
Secara social, pantun memiliki peran yang sangat kuat di dalam pergaulan sehari hari, bahkan hingga saat ini. Di kalangan remaja, seseorang yang dapat berpantun biasanya akan dihargai. Seseorang yang dapat berpantun artinya ia dapat bermain kata kata dengan cepat.
Ada beberapa jenis pantun, salah satunya adalah pantun jenaka.
Pantun Jenaka pada dasarnya memiliki aturan yang sama dengan pantun pantun lain. Bedanya, pantun jenaka harus memiliki unsur humor sehingga dapat membuat pembacanya tertawa atau minimal tersenyum.  Tapi seiring berkembangnya jaman, pantun jenaka pun beberapa berubah menjadi satu sampiran dan satu isi.
Karena Pantun Jenaka memiliki unsur humor maka pantun ini bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, dan terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun Jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang gembira.

Berikut ini adalah beberapa contoh pantun jenaka :

Bagi yang suka Saxophone ini Sejarahnya

Saxophone adalah alat musik yang masuk dalam kategori aerophone, single-reed woodwind instrument. Saksofon biasanya terbuat dari logam dan dimainkan menggunakan single-reed seperti klarinet. Saksofon umumnya dihubungkan dengan popular music, big band music dan jazz, tapi awalnya ditujukan sebagai instrumen orkestra dan band militer. Saat ini saxophone sangat popular digunakan dalam musik jazz, dan memiliki berbagai jenis dengan range yang berbeda-beda.



Sejarah Saxophone

Sabtu, Februari 20, 2016

Pebedaan Sastra Nusantara,Barat,dan Asia

 Sastra Nusantara

>Sastra Bali

Sastra Bali merupakan salah satu khazanah kesusastraan Nusantara.
Seperti kesusastraan umumnya, sastra Bali ada yang diaktualisasikan dalam bentuk lisan (orality) dan bentuk tertulis (literary). Menurut katagori periodisasinya kesusastraan Bali ada yang disebut Sastra Bali Purwa dan Sastra Bali Anyar. Sastra Bali Purwa maksudnya adalah Sastra Bali yang diwarisi secara tradisional dalam bentuk naskah-naskah lama. Sastra Bali Anyar yaitu karya sastra yang diciptakan pada masa masyarakat Bali telah mengalami modernisasi. Ada juga yang menyebut dengan sebutan Sastra Bali Modern.
Sastra Bali sebelum dikenal adanya kertas di Bali, umumnya ditulis di atas daun lontar. Karena ditulis di atas daun lontar, "buku sastra" ini disebut dengan "lontar". Memang ada bentuk tertulis lainnya, seperti prasasti, dengan menggunakan berbagai media seperti batu dan lempengan tembaga, namun tidak terdapat karya Sastra Bali ditulis di atas bilah bambu, kulit binatang, kayu, kulit kayu. Belakangan setelah dikenal kertas, penulis karya sastra Bali menuliskan karyanya di atas kertas, bahkan sudah banyak diketik.
Bahasa yang digunakan untuk menulis Sastra Bali ada tiga jenis yaitu Bahasa Jawa Kuna (Kawi Bali), Bahasa Jawa Tengahan, Bahasa Bali

>Sastra Banjar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...