Jumat, 04 November 2011

Jenis-Jenis Teater Tradisional

Berbicara masalah seni tearer tradisi (daerah), kita akan berbicara mengenai masalah keragaman, kekhasan/keunikan, dan perkembangan di masyarakat. Hampir di setiap daerah kabupaten terdapat seni teater yang memiliki keunikan masing-masing. Suatu jenis kesenian daerah dikelompokkan sebagai seni tearer jika dalam teks pertunjukan terdapat unsur-unsur berikut.
a. naskah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis;
b. tempat pertunjukan atau pentas, baik arena ataupun prossenium,
c. pemain (aktor dan aktris) atau para penari; dan
d. property (perkakas pementasan).
Media untuk mengungkapkan sebuah gagasan, bisa berupa bahasa verbal (dialog atau monolog dengan kata-kata), bahasa visual(gerak, tarian, dan rupa), dan bahasa audio (musik atau karawitan).

Bentuk-bentuk tearer yang hidup dan berkembang di Nusantara dapat dibagi menjadi sebagai berikut.

a. Teater boneka, yaitu pertunjukan water yang tokoh-tokoh ceritanya berupa boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Bentuk teater boneka di antaranya Wayang Kulit, Wayang Golek, dan Wayang Cepak. Wayang Kulit dan Wayang Golek biasanya membawakan cerita Ramayana dan Mahabrata, sedangkan Wayang Cepak biasanya membawakan cerita Babad. Jenis teater boneka termasuk teater total, maksudnya jenis teater ini menyertakan berbagai cabang seni, seperti tari, karawitan, sastra, rupa, dan seni.

b. Teater oncor, yaitu suatu jenis teater daerah yang mempergunakan oncor sebagai penerangan dalam pertunjukannya. Pergelaran teater oncor biasanya dilakukan di sebuah arena (halaman rumah, balai, atau balandongan) dengan cara ngupuk (melantai/lesehan) dan penontonnya membentuk sebuah lingkaran atau tapal kuda. Nama-nama jenis teater oncor, di antaranya Topeng Cirebon, Topeng Banjet, Topeng Ubrug, Topeng Cisalak, dan Longser.

c. Teater catur, yaitu jenis water yang mengutamakan catur (dialog) secara auditif atau tanpa visualdalam arti tidak memunculkan tokoh-tokoh cerita secara visual Penyajiannya dilakukan dengan cara disiarkan melalui siaran radio atau melalui rekaman kaset. Watak, karakter, dan figur tokoh cerita biasanya ada dalam imajinasi para pendengar. Jenis teater ini banyak digemari oleh berbagai kalangan baik tua maupun muda. Jenis teater catur, di antaranya Pantun, Macapat, Wayang Catur, dan Dongeng. Tahun 1970-an seorang dalang yang bernama Djamar Media dari Cianjur, Jawa Barat beralih profesi menjadi pendongeng. Duriat Kabawa Paeb merupakan salah satu judul cerita yang sangat populer pada saat itu. Tahun 1980-an format tersebut diteruskan oleh Uwa Kepoh yang terkenal dengan dongeng-dongengnya. Nama lain yang muncul sebagai pendongeng, yaitu Abah Kabayan.

d. Teater madya, yaitu bentuk garapan tearer yang hidup dan marak di daerah Sunda sekitar tahun 1950-1970-an.Contoh tearer madya, di antaranva sandiwara atau masres (di Cirebon dan Indramayu), Tonil, dan Dul Muluk. Teater ini merupakan perpaduan antara teater tradisional Sunda dengan teater realisme Barat. Salah satu cirinya, yaitu adanya dekorasi panggung serta setting panggung untuk kebutuhan adegan atau babak dalam cerita yang disajikan. Ciri lainnya, pertunjukan teater madya sudah menggunakan ruangan tertutup serta panggung proscenium baik dibuat secara permanen maupun sementara. Proses garapan dalam teater madya sudah memberdayakan peran pimpinan yang biasanya merangkap sutradara. Namun, dalam pelaksanaannya peran sutradara tidak seperti dalam teater Barat. sutradara dalam tearer madya hanya meng-casting calon pemain serta menyampaikan ringkasan cerita. Adapun garapan cerita secara terperinci diserahkan kepada aktor dan aktrisnya. Teknik dan montase sebagai trik-trik dalam permainan dan tata cahaya telah dilakukan dalam teater madya walaupun menggunakan peralatan yang sederhana. Teater madya mencapai puncak kejayaanya pada tahun 1950-1970-an. Hal ini terbukti dengan bermunculannya grup-grup sandiwara seperti Miss Tjitjih di Jakarta, Sri Murni di Bandung, Sinar Pusaka Sunda di Subang, serta grup-grup sandiwara asal Cirebon dan Indramayu.

e.Teater modern, yaitu sebuah bentuk water yang berasal dari Barat. Bentuk teater ini disebut juga teater konvensional karena dilihat dari teknis penggarapannva teater modern menggunakan kaidah-kaidah dramaturgi. Ciri-cirinya, antara lain adanya sutradara yang sangat penting dan manajemen dalam proses penggarapan pementasan. Bentuk teater ini hidup di kola-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Para pemainnya berasal dari kalangan mahasiswa yang bergabung dalam sebuah kelompok baik profesional maupun amatir (di kampus).

f. Teater Teatronik merupakan sebuah istilah dari bentukan kata water dan elektronik. Teatronik, yaitu bentuk teater yang cara penyajiannya tidak di panggung pertunjukan, tetapi di layar kaca (relevisi). Bentuk teater ini mulai disosialisasikan sekitar tahun 1990-an oleh beberapa orang dramawan yang ada di kota-kota besar di pulau Jawa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...