Kamis, 13 Oktober 2011

Proses Disain,Fungsi dan Pengelompokan Disain

Disain 
Kata design dalam kamus Indonesia-Inggris dari John M. Echols berarti: potongan, model, pola, konstruksi, mode, tujuan, rencana. Sedangkan dalam kamus Webster pengertian design adalah gagasan awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan, dan seterusnya.
     Untuk bidang senirupa dan ilmu kemudian diuraikan lagi menjadi: penataan elemen-elemen yang dipergunakan/ diperlukan dalam memproduksi suatu benda. Secara khusus maka senirupa, disain diartikan: merancang suatu benda dengan memperhatikan unsur-unsur estetis, fungsi, materi, cara pembuatan serta pemasaran.

Beberapa sikap pendekatan disain:
Sikap konformis: menganggap aktifitas mendisain sebagai suatu aktifitas yang berdiri sendiri, tanpa mempermasalahkan unsur-unsur sosio-kultural. Karakteristik mereka sebagai suatu kelompok adalah penggunaan warna-warna yang berani, pemanfaatan bahan-bahan baru dan tehnik-tehnik produksi massa yang baru. Masalah yang paling menarik bagi mereka adalah kualitas estetik suatu benda, sehingga mereka sering hanya memperindah bentuk dan menyempurnakan fungsi yang sudah pasti.

Sikap reformis: kelompok ini mempunyai perhatian yang besar terhadap peranan seorang disainer dalam masyarakat. Sikap konsumtif masyarakat dianggap sebagai suatu cara memperbesar kebahagiaan pribadi sehingga dengan demikian juga menjamin stabilitas sosial. Dilemanya adalah mereka menganggap dirinya sebagai ahli menciptakan benda-benda pakai, tapi mereka tidak ada kuasa untuk mengontrol penggunaannya. Mereka berpendapat bahwa tidak bisa ada revolusi disain sebelum ada perubahan struktur sosial, maka mereka menciptakan benda-benda dengan suatu komentar sosial.

Sikap kontestasi (berlomba): menganggap bahwa suatu benda tidak mungkin dirancang terlepas dari sisi sosio-kulturalnya, maka selain menanggapi masalah estetika benda, juga ditanggapi estetika penggunaan benda itu, sehingga bisa muncul berbagai kegunaan. Maka benda-benda yang didisain lebih bersifat environmental, memungkinkan berbagai interaksi sosial dan memungkinkan interpretasi jamak.

Proses Disain 
Masalah disain pada dasarnya baru muncul setelah adanya Revolusi Industri yang memunculkan pembagian pekerjaan dan spesialisasi. Suatu proses produksi yang sebelumnya dilaksanakan secara utuh oleh satu pribadi namun kini menjadi terbagi-bagi. Walau demikian, masing-masing spesialisasi tetap merupakan satu mata rantai dari suatu proses disainer dalam membuat disain.
     Keterkaitan pada unsur lain dalam produksi, membuat seorang disainer harus memperhatikan tiga masalah pokok dalam membuat disain, yaitu:

Fungsi
Memberi batas pada
untuk apa benda itu dipakai
bagaimana mekanisme kerja benda itu
siapa yang akan mempergunakan benda itu

Modal
Besar kecilnya modal akan mempengaruhi bagaimana batasan yang telah diberikan oleh fungsi dapat dilaksanakan.

Persediaan bahan
Persediaan bahan akan mempengaruhi sebatas apa benda tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan keinginan dan bagaimana cara pembuatannya.

     Secara praktis tiga hal ini dapat dijabarkan dalam tahapan disain (design Phase) dan proses disain (design process). Tahapan disain lebih merupakan tahapan kerja dalam mendisain, sedangkan proses disain lebih merupakan proses pemikiran.

Tahapan desain:
studi kelayakan (feasibility study)
pembatasan masalah
identifikasi faktor yang membatasi lingkup masalah
evaluasi kesulitan yang diantisipasi
pemikiran konsekuensi disain

desain awal (preliminary design)
pembuatan sketsa awal, disain awal sampai model

desain detail (rinci)
gambar kerja

Proses desain
formulasi ide
pengembangan ide
evaluasi dan percobaan
penjabaran

Secara lebih terperinci maka langkah-langkah dalam mendesain adalah:
Identifikasi masalah à pengumpulan data à penciptaan ide-ide à pembuatan model à analisa dan evaluasi à eksperimen à pemecahan masalah.

Keindahan Pada Desain 
Keindahan pada karya desain, selain mengikuti kaidah-kaidah estetis seperti prinsip-prinsip disain dan nilai-nilai intrinsik seni, juga mengikuti kaidah lain yang ada pada benda pakai khususnya, yaitu kaidah fungsi.
     Dalam menilai keindahan karya disain, secara khusus kita dapat menilai:

Keindahan bentuk
Keindahan bentuk disain pada dasarnya mengikuti prinsip-prinsip disain.

Keindahan fungsi
Keindahan dalam fungsi dapat dikaitkan dengan kenyamanan pemakaian atau kebenaran mekanisme suatu benda pakai dalam menjalankan fungsinya. Dalam hal ini yang menjadi pertimbangan adalah apakah benda tersebut sudah memenuhi fungsinya dengan baik? Apakah dalam menjalankan fungsinya benda tersebut telah mengikuti mekanisme kerja yang logis dan nyaman? Perpaduan antara keduanya, yaitu keindahan fisik (bentuk) dengan keindahan fungsi, akan menimbulkan rasa senang yang ditimbulkan oleh suatu karya seni yang indah. Demikian maka rasa keindahan (sense of beauty) yang ada pada diri manusia akan tersentuh baik oleh karya disain, maupun oleh karya seni bebas.

Pengelompokan Profesi Disain 
Kelompok 2 dimensi
Disian Grafis
Disain Tekstil

Kelompok 3 dimensi
Disain Produk
Disain Ruang
Disain Bangunan

Kelompok khusus
Disain Otomotif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...