Rabu, Oktober 19, 2011

Sejarah Tari Pajaga

Seperti kita maklumi bahwa sebelum agama Islam masuk kerajaan Luwu (sebelum tahun 1604) maka yang dianut oleh masyarakat Luwu adalah agama Animisme. Agama yang mempercayai banyak dewa. Menurut kebudayaan bahwa seni lahir dari agama setelah pada satu tingkat kebudayaan, manusia percaya pada adanya dewa-dewa.

Mereka melakukan kultus sebagai pernyataan hubungan dan pengabdiannya kepada dewa-dewa itu, menggerakkan hati dewa-dewa agar dewa-dewa tersebut mengabulkan permohonan-permohonan mereka. Dan dilakukan tari-tarian untuk menyenangkan untuk mengambil hati dewa-dewa. Tari lahir gerak keasikan pemujaan dan permohonan, seterusnya agar tari tertentu dalam iramanya, ia diiringi dengan tabuhan suara bunyi-bunyian, yang berkembang menjadi seni musik.

Demikianlah sejarah timbulnya Tari Pajaga semasa Batara Guru I menjadi Pajung (Raja) di Luwu oleh beliau disuruhlah mencipta satu tarian sebagai suatu pemujaan kepada dewa-dewa dalam memenuhi permohonan manusia dan agar gerak itu mempunyai irama yang tetap maka gerak itu diiringi oleh nyanyian dan tabuhan gendang.
Sampai pada saat ini seni tari Pajaga itu, demikian pula dengan alat yang mengiringinya belum banyak mengalami perubahan atau dengan kata lain masih mendekati keaslian.
Asal mulanya sehingga tari ini diberi nama Pajaga. Dalam peningkatan kepercayaan rakyat Luwu dan setelah masuknya agama Islam di Luwu sehingga agama Islam pada itu menjadi agama kerajaan Luwu (tahun 1604). Maka tari ini tidak lagi menjadi tari yang menjadi hiburan raja-raja bahkan menjadi tari penghormatan kepada tamu-tamu raja yang datang ditarikan pada saat tertentu, seperti pada upacara kerajaan.

Salam budaya,,,

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...